Pola serangan siber di Indonesia terus mengalami evolusi. Pelaku ancaman (*threat actors*) kini menggunakan taktik *living-off-the-land*, menyusup melalui kredensial yang sah dan bergerak secara senyap di dalam jaringan intranet korporat selama berminggu-minggu sebelum meluncurkan enkripsi ransomware serentak.

Kelemahan Model Keamanan Perimeter Tradisional

Model keamanan "Castle and Moat" yang mempercayai siapa pun yang berada di dalam jaringan VPN atau LAN internal terbukti usang. Begitu sebuah endpoint staf terinfeksi *malware loader*, penyerang memiliki akses luas ke server berkas, database ERP, hingga server backup tanpa hambatan otentikasi sekunder.

Tiga Langkah Transisi Menuju Zero-Trust

Untuk menangkis skenario tersebut, GTP mengimplementasikan kerangka kerja Zero-Trust yang mencakup:

  • Granular Micro-Segmentation: Membagi segmen server database, aplikasi web, dan workstation pengguna ke dalam enklaf aman dengan aturan inspeksi firewall Layer-7.
  • Continuous Endpoint Assessment: Memastikan seluruh laptop dan workstation karyawan memiliki patch sistem operasi terkini dan agent EDR aktif sebelum diberikan izin akses jaringan.
  • Air-Gapped Immutable Backup: Menyimpan cadangan data pada penyimpanan fisik yang tidak dapat diubah (WORM) dan terisolasi dari konektivitas internet harian.